Kajian Islam • 19 Oct 2026 • 5 Menit Baca

Shalat Kebutuhan Orang Modern

Shalat Kebutuhan Orang Modern
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah;153).

Kehidupan modern terus berubah, ditandai dengan fokus pada kekayaan materi dan kesenangan, di mana kepemilikan barang fisik menjadi tolok ukur kebahagiaan. Masyarakat kontemporer pada dasarnya mengadopsi dan mengikuti kerangka yang berorientasi pada konsumsi, didorong oleh pencarian laba, mengejar kesenangan, serta bersifat egosentris. Selain itu, gaya hidup ini dicirikan oleh individualisme, pola pikir yang terbuka, kegemaran akan kemewahan, mobilitas yang tinggi, serta munculnya stratifikasi sosial atau pengelompokan orang di dalam masyarakat.

Berbagai persyaratan yang harus dipenuhi memberikan pengaruh yang signifikan, baik terhadap individu maupun kelompok sosial. Seseorang terdorong untuk berusaha lebih keras demi mencapai status sosial yang mereka inginkan. Akan tetapi, hal ini juga dapat menimbulkan dampak negatif; kategorisasi yang melekat pada status sosial dapat mendorong seseorang untuk menempuh berbagai cara—dengan menghalalkan segala macam cara—demi meraih status yang diidamkan. Di tengah tuntutan hidup yang kompleks, orang modern sering kali kesulitan untuk menjaga diri, yang pada akhirnya membuat banyak orang terus-menerus diliputi kecemasan yang berakibat kepada rendahnya nilai-nilai kepribadian.

Selain itu, kecemasan sering kali menimbulkan kebingungan, ketidakpastian, stres, dan konflik lainnya—seperti yang berkaitan dengan pengambilan keputusan mengenai tujuan pribadi. Kecemasan dapat muncul akibat berbagai faktor, baik yang bersifat internal (berasal dari dalam diri seseorang) maupun eksternal (berasal dari luar diri seseorang) (Crenata, 2019).

Pada akhirnya, kecemasan ini dapat berkembang menjadi konflik batin, yang ditandai dengan meningkatnya rasa kecewa terhadap diri sendiri—suatu kondisi yang kian sulit untuk diatasi karena kenyataan hidup seseorang tidak selaras dengan aspirasi maupun harapannya.

Ciri lain orang modern ditandai dengan kesibukan yang padat, ditambah dengan adanya intensitas yang tinggi penggunaan aneka perangkat media dan teknologi internet, kondisi ini menghadirkan kebisingan bagi pikiran, distraksi, dan arus informasi yang tiada henti sepanjang hari. Akibat dari hal ini, mereka seringkali kehilangan kesempatan untuk benar-benar hadir seutuhnya dalam apa yang sedang mereka kerjakan, moment by moment (dari saat ke saat). Mereka sibuk dengan internet dan ponsel masing-masing sehingga merenggangkan jarak sosial dalam kesehariannya.

Dr. Lee Hadlington (2015) dari De Montfort University Leicester menemukan bahwa peningkatan interaksi dengan internet atau ponsel menyebabkan individu lebih rentan mengalami 'kegagalan kognitif'. Kegagalan kognitif ini mencakup tindakan melakukan kesalahan fatal serta menunjukkan sikap tidak peka terhadap orang-orang di sekitar. Pengguna internet dan ponsel yang sangat aktif bisa jadi secara tiba-tiba lupa akan alasan mereka mendatangi suatu tempat tertentu. Nah, sebenarnya apa yang dicari oleh orang modern itu?

Mengingat betapa rumitnya kehidupan modern, Islam tetap relevan di sepanjang zaman. Islam menawarkan solusi bagi kebutuhan dasar manusia—sebuah sarana untuk terlepas dari kekhawatiran dan keraguan yang kerap muncul dalam perjalanan hidup. Kebutuhan mendasar ini adalah shalat. Ibadah shalat menjadi jawaban yang sangat efektif dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup orang modern. Dalam konteks ini, konsep mindfulness—suatu kondisi kesadaran penuh—yang dapat diperoleh melalui sholat. Hal ini ibarat oase yang ditemukan oleh seorang pengembara di tengah gurun; ia memungkinkan seseorang untuk kembali memperoleh kesadaran diri sepenuhnya serta menikmati setiap momen dengan perhatian yang utuh dan sadar.

Beberapa strategi cerdas yang dapat membantu agar shalat menjadi kebutuhan vital bagi masyarakat modern—sebuah sarana untuk terhubung kembali dan memperkuat kesadaran diri yang tidak stabil sebagai berikut:

Pertama, Memperkuat Motivasi Ketulusan Niat (Motivation of Sincere Intent).
Motivasi yang lahir dari niat tulus berfungsi sebagai katalisator yang memperkuat dedikasi seseorang dalam shalat, tanpa adanya pamrih. Ketulusan niat dalam shalat mencerminkan kerendahan hati seorang hamba dalam pengabdiannya. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman: “Ketahuilah bahwa Aku akan menerima shalat orang-orang yang merendahkan hati karena menyaksikan keagungan-Ku, orang yang tidak menyombongkan diri kepada-Ku, dan orang yang memberi makan kepada orang miskin yang lapar demi mengharap keridhan-Ku (Hadits Qudsi).

Terdapat berbagai motivasi atau alasan untuk melakukan shalat, yang masing-masing bersumber dari perasaan tertentu—ada yang didorong oleh rasa takut akan dosa atau hukuman, sementara yang lain termotivasi oleh harapan akan berkah ilahi atau jalan menuju surga. Perasaan semacam apa pun itu sepenuhnya sah, selama hal tersebut menjadi pemicu bagi seseorang untuk melakukan shalat. Di antara berbagai perasaan yang mendasari ini, salah satu yang secara khusus dianjurkan oleh Nabi Muhammad adalah rasa syukur. Rasa syukur merupakan emosi yang perlu dipupuk; dengan menumbuhkan motivasi yang tulus dan mendalam kepada Allah, seseorang akan mulai merasakan kekayaan batin yang luar biasa.

Dengan cara tersebut, kesedihan akan berubah menjadi sukacita, kelemahan berganti menjadi kekuatan, ketidaktahuan berkembang menjadi pengetahuan, rasa sakit berubah menjadi penghiburan, dan sesuatu yang tadinya tampak suram mulai menampakkan keindahan sejatinya. Rasa syukur adalah perasaan yang luar biasa—sebuah emosi yang mendorong pikiran untuk secara proaktif dan positif memupuk serta meningkatkan aspek-aspek tertentu yang disyukuri oleh seseorang. Sholat yang dilakukan karena sebagai ungkapan rasa syukur akan melekatkan hati pada Allah Sang Pemberi nikmat.

Meskipun demikian, alasan paling kuat untuk memiliki niat yang tulus adalah demi mendapatkan keridhaan dari Allah SWT. Untuk meraih rida Allah SWT, seseorang harus memenuhi sejumlah ketentuan kesucian—baik yang berkaitan dengan hadas besar maupun hadas kecil—sebelum melaksanakan salat. Ketentuan tersebut meliputi kesucian diri melalui wudu’, kebersihan pakaian, kebersihan tempat salat, menutup aurat, menghadap kiblat, menaati waktu salat, serta berdiri saat salat (kecuali bagi mereka yang diperbolehkan duduk menurut syariat Islam).

Shalat merupakan bentuk ibadah utama dalam Islam. Melalui shalat, seseorang dapat menjalin komunikasi dan terhubung dengan Allah (SWT). Shalat adalah bentuk pengabdian pertama yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah (SWT) saat seluruh amal perbuatan seseorang dinilai di akhirat kelak.

Apa Reaksi Anda?

Bagikan:
Kembali ke Arsip
Baca Artikel

Artikel Terkait

Diskusi (0)

Belum ada diskusi untuk artikel ini. Mari mulai percakapan!

Tinggalkan Jejak ✍️

Verifikasi Keamanan

Buktikan Anda bukan robot dengan menjawab ini:

6 + 8 = ?